didikan

 Definisi keluarga, buat ku. Beranggota bersifat harmonis, ada ayah, ibu, kakak, adik. Hanya itu saja ? yap, tp setiap keluarga mempunyai sifat kasih saying berbeda – beda. Mungkin keluarga kalian, berbeda denganku. Menurutku keluarga ku, memang beda.

Zaman sekolah, aku sering melihat teman – teman ku pasang foto dengan ortuny. Sama bapak, atau ibuny. Aku merasa seperti teman sendiri. Aku tidak merasa iri, karna aku sadar diri.

Dari kecil, ayahku suka dinas diluar kota. Sampai umurku 18 thn, sebenrny kalau aku denger cerita ibu ku. Aku mengenal ayahku, diumur 3 tahun. Aku inget sekali, dulu waktu ayah pulang aku nggak mau digendong, aku hanya tau tetangga depan rumahku itu “bapak”. Mungkin sampai saat ini , aku sadar “kenapa gua ga akrab dengan bapak?”. Sama dengannya, adek. Menurutku adekku hamper sama dengan ku. Kurang dekat, setiap ayah ingin dinas keluar kota. Ibu, aku dan adek ku. Selalu mengantarnya, merasa sudah tidak heran. Walaupun, ketika rombongan ayah berangkat. Orang – orang disekitar menangis, tetapi aku dan adek selalu disuruh pulang duluan dengan ibu. “ayo anak – anak kita pulang, let’s go!!”

Mungkin ibu sedang menguatkan diri dan kuatin anak nya. Alhamdullilah aku dan adek tidak merasa kesepian, selama ditinggal ayah tugas.

Beda dengan nya ibuku, waktu kecil. Aku merasa ibu adalah musuhku, aku takut kalo ada ibu, dulu selama aku sekolah dasar. Aku nakal sekali, banyak yang bilang “kamu cowok nggak jadi”. Diotak ku hanya main, beli mainan, dan panas – panasan dilapangan. Selama ayah tugas diluar kota, ibu lagi mencari penjaga untuk adek. Sudah ada beberapa mbak yang kerja dirumah tidak betah, karna aku. aku selalu iri dengan mereka. “kenapa sih mamah baik sama si mbak?”

Sampai akhirnya ada mba yang bertahan dirumah hingga 4,5 tahun. Selama mereka kerja dirumah, kerjaan ku nakal sekali. Yang ujung – ujungnya ibu memarahi aku. hingga akhirnya mba izin pulang, saat itu aku masih SD kelas 4. Aku merasa sedih sekali, karna tugas untuk yang menjagain adek jatuh ketangan ku. Saat itu, ayah di Papua. Aku malas sekali. Hingga aku duduk di bangku SMP. Aku menjadi nyaman dirumah, jarang sekali keluar rumah. Sekalinya libur, ibu hanya dirumah.

Hingga aku duduk dibangku SMA, aku pikir “ enak banget ya jadi dia, bisa liburan ke bali?”

Setiap akhir pekan selalu jalan – jalan ke mall, beli hp iphone, setiap jalan – jalan selalu foto – foto dengan keluargany. Itu semua berbanding terbalik dengan ku. Semakin umurku bertambah, aku sadar, setiap orang tua punya caranya masing – masing. Ga Cuma dimanjaa, di elus – elus, nooo aku rasa itu bukan cara ortu mendidik aku dan adekku.

Aku sadar, keluarga ku beda sekali dengan yang lain. Walaupun ortuku kerja dua – duanya. Mereka tetap mengajarkan anaknya untuk hidup apa adanya.

Aku pernah bilang

“kapan – kapan makan disini mah.”

“dia enak mau minta uang, kayanya enak bgt”

Saut ibuku hanya “nanti kalo kamu punya gaji sendiri kamu puasin buat makan disini.”  

Hingga saat ini ,aku sangat belajar bersyukur. Berkat didikan mereka, aku bisa menahan nafsu untuk tidak mengikuti jaman. Walaupun sampai saat ini aku belum, membahagiakan keluargaku. Aku masih ngalamin ocehan dari mereka, tp itu semua aku biarkan. Aku belajar dari masa lalu “kalau ada orng ngobrol, walaupun itu tidak nyambung . ttep dengerin, ambil yang positifny.”

Unuk itu, aku bersyukur atas didikan mereka....... 

tunggu berikutny ya

 

“mahal ga ? ada uangnya” – mamah

“jangan cengengesan  !!!” – bapak

“lu mah , udah pikirin buruk duluan. Pea” – dek jal

Comments

Popular Posts